Laman

Kamis, 21 April 2011

CERITA RATU KIDUL BERBAGAI VERSI - ADA 1600 BUKU DONGENG CERITA RAKYAT NUSANTARA

SEKITAR 1600 BUKU DONGENG CERITA RAKYAT NUSANTARA YANG TERSIMPAN DI NEGERI BELANDA DAN MALAYSIA UNTUK PENGAMANAN (AGAR TIDAK HILANG BEGITU SAJA) 
SUMBER2 CERITA/DONGENG NUSANTARA DIAMBIL DARI BLOCK RADITYO FULL (koleksinya banyak sekali beliau/tidak terhitung)

Legenda Nyi Roro Kidul - Dewi Srengenge (Versi Sunda)


by Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Thursday, October 28, 2010 at 6:28pm

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.

Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak.

"Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku", kata Raja Munding Wangi.

Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.

Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya.

"Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya."

Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.

Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya.

"Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri," kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu.

Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan..

Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang.

Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.


Legenda Nyi Roro Kidul - RATNA DEWI SUWIDO (Sunda) V.2



by Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Thursday, October 28, 2010 at 11:13pm
Nyai ratu kidul dipercayai sebagai seorang ratu kidul yang sakti, yang menguasai samudra Indonesia. di Jawa Tengah, dia juga dikenal dengan nama Nyai Loro Kidul atau Nyi Lara Kidul. Penduduk sepanjang pantai selatan pulau Jawa sampai saat ini masih mempercayai kesaktiannya, bahkan di Parang Tritis sebuah obyek wisata, kadang-kadang masih dilakukan upacara yang berkaitan dengan Nyi Lara Kidul. Tentang asal usul dan riwayat Nyi Lara Kidul, ada bermacam-macam versi. Dan yang diceritakan di sini adalah sebuah riwayat yang berasal dari Jawa Barat.

Konon di kerajaan Pajajaran Purba bertahtalah seorang raja bernama Prabu Mundingsari. Baginda dikenal sebagai raja yang berwajah tampan dan bijaksana dalam pemeritahan, hingga dicintai segenap rakyat Pajajaran. Prabu Mundingsari sangat gemar pergi berburu dengan diiringi tamtama atau pengawal. Tetapi hati itu, panglima tersesat dan terpisah dari pengawalnya ketika memburu seekor kijang. Prabu Mundingsari mencoba mencari pengawalnya. Tetapi, sesudah menjelajahi rimba itu sampai setengah hari jejak para pengawal itu belum juga tampak, sehingga Baginda Mundingsari semakin jauh tersesat. Haripun mulai gelap, baginda bermaksud beristirahat. Karena lelahnya, baginda Mundingsari tertidur. Dalam keadaan setengah tertidur itu, tiba-tiba ada seorang berada di dekatnya. Baginda terkejut dan segera terbangun. Di hadapannya telah berdiri seorang gadis yang sangat cantik dan tengah tersenyum padanya.

"Oh, siapakah kau…?!" tanya Prabu Mundingsari keheranan.

"Hamba adalah cucu dari raja rimba ini. Apakah tuan adalah raja Mundingsari dari Pajajaran?"

"Ya, aku adalah raja Mundingsari. Ada apa kiranya?"

"Tuanku tampaknya tersesat dan terpisah dari para pengawal tuanku. Sudilah kiranya tuanku singgah di istana kakekku sambil beristirahat di sana."

Karena undangan itu disampaikan dengan ramah dan sopan santun, baginda Mundingsari tidak dapat menolaknya, apalagi orang yang mengundangnya adalah seorang gadis yang sangat cantik. Raja Pajajaran itupun mengikuti si gadis cantik itu.

Tak seberapa lama kemudian sampailah mereka pada istana tempat tinggal gadis itu. Gadis itu segera membawa prabu Mundingsari masuk ke dalam istana. Mereka disambut oleh raja yang berwajah cukup seram. Tetapi kata-katanya cukup ramah.

"Ahahahahahahaha!!! Prabu Mundingsari, selamat datang di istanaku walau tidak seindah istanamu. Kuharap kau akan betah tinggal di sini!! Cucuku mencintai tuan hingga tiap malam, wajah tuan selalu terbawa mimpi dan bahkan dia jatuh sakit. Soal terpisahmu dari pengawal tuan tersesat di rimba ini, akulah yang mengaturnya. Prabu Mundingsari merasa heran akan kata-kata raja itu. Dia menoleh putri cantik itu yang tampak wajahnya yang tersipu sipu malu.

Karena kecantikan putri itu, lagi pula karena kelemah lembutannya putri itu, Prabu Mundingsari segera jatuh hati pada perempuan itu. Kemudian merekapun menikah dan hidup dalam kebahagiaan.

Baginda tinggal beberapa lama bersama istrinya di istana dalam rimba itu. Hingga pada suatu hari…

"Adinda, rasanya sudah cukup lama kakanda meninggalkan istana Pajajaran. Aku hendak menjenguk ke sana dan hendak kulihat bagaimana keadaan rakyatku," Kata Prabu Mundingsari.

"Baiklah kakanda! Tetapi sesekali datanglah kakanda menjenguk hamba…" sahut istrinya dengan sedih mendengar niat prabu Mundingsari, suaminya itu.

Kemudian, Prabu Mundingsari keluar dari istana menuju Pajajaran. Tetapi, kali ini baginda tidak tersesat dan mudah mendapatkan jalan pulang.

Setiba di istana Pajajaran, baginda disambut dengan isak tangis kegembiraan oleh permaisuri dan siisi istana, karena sudah berbulan-bulan baginda menghilang dalam sebuah perburuan. Kemudian, baginda kembali menduduki tahta Pajajaran dan memerintah sebagaimana sebelumnya. Berbulan-bulan kemudian. Pada suatu malam, baginda terjaga dari tidurnya karena mendengar suara tangis bayi. Baginda Mundingsari segera bangkit, dan mendatangi sumber suara itu. Maka tampak olehnya sebuah buaian dan di dalamnya terdapat seorang bayi yang tengah menangis. Baginda segera mendukung bayi yang ternyata seorang bayi perempuan. Tiba-tiba seraut wajah yang dikenalnya sebagai wajah istrinya dari istana di tengah rimba tempo lalu.

"Kakanda Mundingsari, bayi itu adalah anak kita! Dia kuserahkan kepada kakanda untuk kau besarkan di kalangan manusia," kata istrinya itu.

"Dia kalangan manusia? Apa maksud adinda? " tanya prabu Mundingsari tak mengerti.

"Sebenarnya bahwa aku dari kalangan siluman!"sahut istrinya itu. Baginda Prabu Mundingsari merasa heran dan hanya tertegun sampai beberapa saat. Dia tidak tahu dan tidak menyadari ketika bayangan wajah putri siluman istrinya itu menghilang.

Demikianlah, bayi perempuan itu dipelihara di lingkungan istana dan abadi diberi nama RATNA DEWI SUWIDO.

Permaisuri baginda Mundingsari merasa tidak senang akan kehadiran Dewi Suwido di istana Pajajaran. Dia memperlakukannya dengan bengis. Delapan belas tahun kemudian. Dewi Suwido tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan sukar dicari tandingannya. Kecantikannya itu terkenal hingga ke negara-negara tetangga. Hal ini semakin mebuat tak senang hati sang permaisuri apalagi putrinya tidak secantik Dewi Suwido.

Sementara itu sudah banyak lamaran dari para pangeran yang bermaksud mepersunting Dewi Suwido, hati permaisuri semakin geram. Oleh sebab itu, timbul maksud jahatnya untuk menyingkirkan Dewi Suwido dari istana. Dalam mewujudkan maksud jahatnya itu, permaisuri segera mendatangi seorang ahli tenung yang terkenal pandai.

"Ah tuanku permaisuri tidak perlu khawatir! Hal itu bukan pekerjaan sukar buat hamba," kata dukun tenung itu.

"Ingat…aku inginkan wajah gadis itu rusak. Hingga tak seorangpun sudi memandanginya!" pesan sang permaisuri.
Sepeninggal permaisuri, tukang tenung itu segera melaksanakan permintaan permaisuri. Pada malam harinya, dia mulai menyebarkan ilmunya. Keesokan harinya, Dewi Suwido bangun dari tidurnya dan merasa tidak enak di sekujur tubuhnya.

"Ah, kepalaku terasa berat. Kulit wajahkupun terasa tebal. Karena merasa ada kelainan pada wajahnya, gadis itu berkaca. Dia sangat terkejut melihat wajahnya dalam kaca yang kini telah berubah mejadi buruk.

"Ah…apakah…apakah yang berada dalam cermin itu adalah wajahku? Mengapa jadi demikian?" Ketika menyadari bahwa wajah yang berada di cermin itu memang betul wajahnya. Hati Dewi Sumido jadi hancur. Dia menangis terus menerus.
Kecantikannya sama sekali sudah tidak tersisa. Berhari-hari gadis itu mengurung diri di kamar, dan tidak mau menjumpai orang. Tetapi, atas pembritahuan sang permaisuri, prabu Mundingsari akhirnya tahu kalau Dewi Sumido mengidap penyakit yang berbahaya.

"Ah…kau mengidap penyakit kudis, anakku. Penyakit itu adalah penyakit kulit yang menular ….ayahanda merasa menyesali sekali. Tetapi apa boleh buat, kau akan kuasingkan dari istana." kata Prabu Mundingsari, ayahnya.

Hati Dewi Suwido semakin remuk ketika ayah kandungnya sendiri bermaksud menyingkirkan dan tidak mau berdekatan dengan dirinya. Baginda Mundingsari segera memerintahkan beberapa orang pengawal mengantarkan Dewi Sumido ke dalam rimba.

Setiba di tepi rimba, para pengawal tidak mau mengantarkannya lebih jauh. Dengan hati pilu, gadis itu melanjutkan perjalanan ke dalam rimba seorang diri. Dia masih belum tahu hendak menuju ke mana. Pada akhirnya, Dewi Sumido tiba di gunung Kombang. Kemudian, dia bertapa di sana dan memohon pada para dewa agar wajahnya dikembalikan sebagaimana sebelumnya. Bertahun-tahun dia melakukan tapa, malahan wajahnya semakin rusak. Tetapi, pada suatu hari, dia mendengar sebuah suara.

"Cucuku. Dewi Suwido! Kalau kamu ingin wajahmu kembali seperti semula, berangkatlah menuju ke selatan. Kau harus masuk ke laut Selatan dan bersatu dengannya. Dan tak usah kembali dalam pergaulan manusia."

Setelah mendengar suara itu, Dewi Sumido segera berangkat ke arah selatan seperti yang diperintahkan. Berhari-hati kemudian, tibalah dia di Pantai Selatan. Gadis itu merasa ngeri berada di pantai yang tajam dan curam itu. Tetapi dia percaya akan kata-kata yang didengar dalam tapanya itu, yang dipercaya sebagi petunjuk dari para dewa.

Dengan penuh kepercayaan pula Dewi Suwido terjun laut tebing yang curam. Setelah muncul kembali dari dalam air laut, segala penyakit yang menempel pada tubuh Dewi Suwido telah hilang. Kecantikan Dewi Suwido kembali pada keadaannya semula bahkan lebih cantik. Menurut kepercayaan penduduk setempat, Dewi Suwido masih hidup hingga kini dan menjadi Ratu di Laut Selatan, ratu dari segala jin dan siluman di sana.

Benar atau tidaknya cerita di atas, yang jelas penduduk di sepanjang pantai selatan pulau Jawa sampai saat ini masih mempercayai akan kesaktian Ratu Samudra Indonesia itu.


Legenda Nyi Roro Kidul - Putri Kandita (Versi BANTEN KIDUL)

 

byKumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Thursday, October 28, 2010 at 8:11pm
Banten Kidul yang berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia, masyarakat Banten Kidul mengenal sebuah dongeng tentang Nyi Roro Kidul.

Bagi masyarakat, cerita ini bagian yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Kerajaan Sunda. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau kisah tentang penguasa laut selatan ini berbeda dengan cerita yang dikenal oleh masyarakat pantai selatan di luar Banten Kidul, seperti di daerah Yogyakarta. Cerita ini begitu legendaris dan sangat kuat terpatri di hati masyarakat Lebak selatan yang memang bersinggungan langsung dengan laut selatan.

Diceritakan bahwa Nyai Roro Kidul merupakan putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ibunya merupakan permaisuri kinasih dari Prabu Siliwangi. Nyai Roro Kidul yang semula bernama Putri Kandita, memiliki paras yang sangat cantik dan kecantikannya itu melebihi kecantikan ibunya. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau Putri Kandita menjadi anak kesayangan Prabu Siliwangi.

Sikap Prabu Siliwangi yang begitu menyayangi Putri Kandita telah menumbuhkan kecemburuan dari selir dan putri-putri raja lainnya. Kecemburuan itu yang kemudian melahirkan persekongkolan di kalangan mereka untuk menyingkirkan Putri Kandita dan ibunya dari sisi raja dan lingkungan istana Pakuan Pajajaran.

Rencana tersebut dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan ilmu hitam sehingga Putri Kandita dan ibunya terserang suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Di sekujur tubuhnya, yang semula sangat mulus dan bersih, timbul luka borok bernanah dan mengeluarkan bau tidak sedap (anyir). Akibat penyakitnya itu, Prabu Siliwangi mengucilkan mereka meskipun masih tetap berada di lingkungan istana. Akan tetapi, atas desakan selir dan putra-putrinya, Prabu Siliwangi akhirnya mengusir mereka dari istana Pakuan Pajajaran.

Mereka berdua keluar dari istana dan berkelana ke arah selatan dari wilayah kerajaan tanpa tujuan. Selama berkelana, Putri Kandita kehilangan ibunya yang meninggal dunia di tengah-tengah perjalanan. Suatu hari, sampailah Putri Kandita di tepi sebuah aliran sungai. Tanpa ragu, ia kemudian meminum air sungai sepuas-puasnya dan rasa hangat dirasakan oleh tubuhnya. Tidak lama kemudian, ia merendamkan dirinya ke dalam air sungai itu.

Setelah merasa puas berendam di sungai itu, Putri Kandita merasakan bahwa tubuhnya kini mulai nyaman dan segar. Rasa sakit akibat penyakit boroknya itu tidak terlalu menyiksa dirinya. Kemudian ia melanjutkan pengembaraannya dengan mengikuti aliran sungai itu ke arah hulu. Setelah lama berjalan mengikuti aliran sungai itu, ia menemukan beberapa mata air yang menyembur sangat deras sehingga semburan mata air itu melebihi tinggi tubuhnya. Putri Kandita menetap di dekat sumber air panas itu. Dalam kesendiriannya, ia kemudian melatih olah kanuragan.

Selama itu pula, Putri Kandita menyempatkan mandi dan berendam di sungai itu. Tanpa disadarinya, secara berangsur-angsur penyakit yang menghinggapi tubuhnya menjadi hilang. Setelah sembuh, Putri Kandita meneruskan pengembaraan dengan mengikuti aliran sungai ke arah hilir dan ia sangat terpesona ketika tiba di muara sungai dan melihat laut. Oleh karena itu, Putri Kandita memutuskan untuk menetap di tepi laut wilayah selatan wilayah Pakuan Pajajaran.

Selama menetap di sana, Putri Kandita dikenal luas ke berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa sebagai wanita cantik dan sakti. Mendengar hal itu, banyak pangeran muda dari berbagai kerajaan ingin mempersunting dirinya. Menghadapi para pelamar itu, Putri Kandita mengatakan bahwa ia bersedia dipersunting oleh para pangeran itu asalkan harus sanggup mengalahkan kesaktiannya termasuk bertempur di atas gelombang laut yang ada di selatan Pulau Jawa.

Sebaliknya, kalau tidak berhasil memenangkan adu kesaktian itu, mereka harus menjadi pengiringnya.
Dari sekian banyak pangeran yang beradu kesaktian dengan Putri Kandita, tidak ada seorang pangeran pun yang mampu mengalahkan kesaktiannya dan tidak ada juga yang mampu bertarung di atas gelombang laut selatan. Oleh karena itu, seluruh pangeran yang datang ke laut selatan tidak ada yang menjadi suaminya, melainkan semuanya menjadi pengiring Sang Putri.

Kesaktiannya mengalahkan para pangeran itu dan kemampuannya menguasai ombak laut selatan menyebabkan ia mendapat gelar Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul yang artinya Ratu Penguasa di Selatan.

Legenda Nyi Roro Kidul - Biding Laut (Batak) - versi 1


  Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Thursday, October 28, 2010 at 9:43pm 

Sebelum melakukan perjalanan ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Misteri menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Silalahi (40 thn), spiritualis yang akan memimpin ritual tersebut.

“Legenda asal usul Kanjeng Ratu Kidul berasal dari Tanah Batak ini tidak lepas dari kisah Raja-raja Batak,” demikian Silalahi memulai ceritanya.

Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang mempunyai dua orang putra. Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon.

Putra sulungnya, yakni Guru Tatea Bulan memiliki 11 anak (5 putera dan 6 puteri). Kelima putera bernama: Raja Uti, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja dan Lau Raja. Sedangkan keenam puteri bernama: Biding Laut, Siboru Pareme, Paronnas, Nan Tinjo, Bulan dan Si Bunga Pandan.

Putri tertua yakni Biding Laut memiliki kecantikan melebihi adik perempuan lainnya. Dia juga memiliki watak yang ramah dan santun kepada orangtuanya. Karena itu, Biding Laut tergolong anak yang paling disayangi kedua orangtuanya.
Namun, kedekatan orangtua terhadap Biding Laut ini menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka lalu bersepakat untuk menyingkirkan Biding Laut.

Suatu ketika, saudara-saudaranya menghadap ayahnya untuk mengajak Biding Laut jalan-jalan ke tepi pantai Sibolga. Permintaan itu sebenarnya ditolak Guru Tatea Bulan, mengingat Biding Laut adalah puteri kesayangannya. Tapi saudara-saudaranya itu mendesak terus keinginannya, sehingga sang ayah pun akhirnya tidak dapat menolaknya.

Pada suatu hari, Biding Laut diajak saudara-saudaranya berjalan-jalan ke daerah Sibolga. Dari tepi pantai Sibolga, mereka lalu menggunakan 2 buah perahu menuju ke sebuah pulau kecil bernama Pulau Marsala, dekat Pulau Nias.

Tiba di Pulau Marsala, mereka berjalan-jalan sambil menikmati keindahan pulau yang tidak berpenghuni tersebut. Sampai saat itu, Biding Laut tidak mengetahui niat tersembunyi saudara-saudaranya yang hendak mencelakakannya. Biding Laut hanya mengikuti saja kemauan saudara-saudaranya berjalan semakin menjauh dari pantai.

Menjelang tengah hari, Biding Laut merasa lelah hingga dia pun beristirahat dan tertidur. Dia sama sekali tidak menduga ketika dirinya sedang lengah, kesempatan itu lalu dimanfaatkan saudara-saudaranya meninggalkan Biding laut sendirian di pulau itu.

Di pantai, saudara-saudara Biding Laut sudah siap menggunakan 2 buah perahu untuk kembali ke Sibolga. Tetapi salah seorang saudaranya mengusulkan agar sebuah perahu ditinggalkan saja. Dia khawatir kalau kedua perahu itu tiba di Sibolga akan menimbulkan kecurigaan. Lebih baik satu saja yang dibawa, sehingga apabila ada yang menanyakan dikatakan sebuah perahunya tenggelam dengan memakan korban Biding Laut.
Tapi apa yang direncanakan saudara-saudaranya itu bukanlah menjadi kenyataan, karena takdir menentukan lain.

BIDING LAUT DI TANAH JAWA
Ketika terbangun dari tidurnya, Biding Laut terkejut mendapati dirinya sendirian di Pulau Marsala. Dia pun berlari menuju pantai mencoba menemui saudara-saudaranya. Tetapi tidak ada yang dilihatnya, kecuali sebuah perahu.
Biding laut tidak mengerti mengapa dirinya ditinggalkan seorang diri. Tetapi dia pun tidak berpikiran saudara-saudaranya berusaha mencelakakannya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menaiki perahu itu dan mengayuhnya menuju pantai Sibolga.

Tetapi ombak besar tidak pernah membawa Biding Laut ke tanah kelahirannya. Selama beberapa hari perahunya terombang-ombang di pantai barat Sumatera. Entah sudah berapa kali dia pingsan karena kelaparan dan udara terik. Penderitaannya berakhir ketika perahunya terdampar di Tanah Jawa, sekitar daerah Banten.

Seorang nelayan yang kebetulan melihatnya kemudian menolong Biding Laut. Di rumah barunya itu, Biding Laut mendapat perawatan yang baik. Biding Laut merasa bahagia berada bersama keluarga barunya itu. Dia mendapat perlakuan yang sewajarnya. Dalam sekejap, keberadaannya di desa itu menjadi buah bibir masyarakat, terutama karena pesona kecantikannya.

Dikisahkan, pada suatu ketika daerah itu kedatangan seorang raja dari wilayah Jawa Timur. Ketika sedang beristirahat dalam perjalanannya, lewatlah seorang gadis cantik yang sangat jelita bak bidadari dari kayangan dan menarik perhatian Sang Raja. Karena tertariknya, Sang Raja mencari tahu sosok jelita itu yang ternyata Biding Laut. Terpesona kecantikan Biding Laut, sang raja pun meminangnya.

Biding Laut tidak menolak menolak pinangan itu, hingga keduanya pun menikah. Selanjutnya Biding Laut dibawanya serta ke sebuah kerajaan di Jawa Timur.

TENGGELAM DI LAUT SELATAN
 

Biding Laut hidup berbahagia bersama suaminya yang menjadi raja. Tetapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Terjadi intrik di dalam istana yang menuduh Biding Laut berselingkuh dengan pegawai kerajaan. Hukum kerajaan pun ditetapkan, Biding Laut harus dihukum mati.

Keadaan ini menimbulkan kegalauan Sang Raja. Dia tidak ingin isteri yang sangat dicintainya itu di hukum mati, sementara hukum harus ditegakkan. Dalam situasi ini, dia lalu mengatur siasat untuk mengirim kembali Biding Laut ke Banten melalui lautan.

Menggunakan perahu, Biding Laut dan beberapa pengawal raja berangkat menuju Banten. Mereka menyusuri Samudera Hindia atau yang dikenal dengan Laut Selatan.

Namun malang nasib mereka. Dalam perjalanan itu, perahu mereka tenggelam diterjang badai. Biding Laut dan beberapa pengawalnya tenggelam di Laut Selatan.

Demikianlah sekelumit legenda Biding Laut yang dipercaya sebagai sosok asli Kanjeng Ratu Kidul.
“Dalam legenda raja-raja Batak, sosok Biding Laut memang masih misterius keberadaannya, Sedangkan anak-anak Guru Tatea Bulan yang lain tercantum dalam legenda,” kata Silalahi dengan mimik serius.
Sementara itu, Boru Tumorang (45 thn) mengaku sudah lama dirinya sering kemasukan roh Kanjeng Ratu Kidul. Terutama terjadi saat kedatangan tamu yang minta tolong dirinya untuk melakukan pengobatan. Tetapi Boru Tumorang tidak mengerti mengapa raganya yang dipilih Kanjeng Ratu Kidul. Semuanya terjadi diluar keinginannya.

Catatan tambahan:
Sejauh ini terdapat berbagai pendapat seputar asal usul sosok Kanjeng Ratu Kidul. Ada yang mengatakan, Kanjeng Ratu Kidul sesungguhnya adalah Ratu Bilqis, isteri Nabi Sulaiman Alaihissalam. Dikisahkan, setelah wafatnya Nabi Sulaiman as., Ratu Bilqis mengasingkan dirinya ke suatu negeri. Di sana beliau bertapa hingga moksa atau ngahyang.
Legenda lain seputar Kanjeng Ratu Kidul adalah Dewi Nawang Wulan, sosok bidadari yang pernah diperisteri Jaka Tarub. Sedangkan kisah lain tidak secara spesifik menyebutkan asal Kanjeng Ratu Kidul, kecuali dia puteri seorang raja di Tanah Jawa.


Nyi Rara Kidul versi Babad Demak

by Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Thursday, October 28, 2010 at 10:31pm
Lungsung Jagat dan Jayekatong

BUKTI CINTA RATU KIDUL KE SANG SENAPATI

Ini cerita lain dari Babad Demak. Berbagai ragam kesaktian melingkupi kehidupan para Raja di Pulau Jawa. Sebutir telor yang dinamai Langsung Jagat dan minyak Jayekatong disebut-sebut punya khasiat luar biasa.

Konon, telur Lungsung Jagat dan minyak Jayekatong dahulu dimiliki oleh Panembahan Senopati yang merupakan pemberian dari Kanjeng Ratu Kidul sebagai bukti tanda cintanya kepada sang Senopati.

Kedua pusaka ini bukanlah pusaka sembarangan, karena memiliki khasiat menjadikan tubuh menjadi sangat kuat dan memiliki umur yang panjang.

Alkisah, setelah menerima pemberian ini, sang Senopati bertemu dengan Sunan Kadilangu, gurunya. Sunan Kadilangu bertanya kepada sang Senopati bahwa ia diberi apa oleh Ratu Kidul.

Sang Senopati menunjukkan benda-benda yang diberikan oleh Ratu Kidul, yaitu telur Lungsung Jagat dan minyak Jayengkatong. Senopati kemudian memberikan benda itu kepada Sunan Kadilangu. Dalam kesempatan itu Sunan Kadilangu ingin singgah ke Mataram. Mereka ingin membuktikan khasiat keduanya.

Sang Senopati mempunyai juru taman yang kesukaannya meminum candu sehingga menderita sakit pernafasan. la sering berdoa kepada Yang Mahakuasa agar dianugerahi kekuatan dan umur panjang. Sang Senopati memberikan telur Lungsung Jagat kepada juru taman. la memberitahukan juru taman bahwa sesudah memakan telur itu penyakitnya akan sembuh dan akan memiliki umur panjang.

Sesudah juru taman memakannya, badannya berputar sangat cepat dan tidak berapa lama terdengar bunyi menggelegar, dan bersamaan dengan itu ada pohon yang tumbang. Tiba-tiba juru taman berubah menjadi raksasa yang bertaring dan berambut tebal.

Benarlah ternyata khasiat telur LungsungJagat menjadikan orang yang memakannya menjadi raksasa yang kuat, sehat, dan berumur panjang.

Sunan Kadilangu dan sang Senopati ingin membuktikan khasiat minyak Jayengkatong. Sang Senopati memanggil dua orang abdinya, bernama Nini Panggung dan Ki Kosa.

Begitu ditetesi minyak itu, keduanya menjadi tidak tampak sebab sudah berubah menjadi siluman. Keduanya disuruh oleh Sunan Kadilangu agar mengasuh sang Senopati. Kemudian Nini Panggung dan Ki Kosa disuruh tinggal di pohon beringin tua, sedangkan juru taman disuruh tinggal di Gunung Merapi.

Konon karena kesaktian telur Lungsung Jagat dan minyak Jayekatong ini, sampai sekarang ketiga abdi sang Senopati ini tetap dalam wujudnya. Sang Juru Taman menjadi makhluk gaib yang menjaga kawasan Gunung Merapi. Sedangkan Nini Panggung dan Ki Kosa, menurut cerita masih dapat ditemui oleh orang-orang tertentu yang melakukan tirakat dan semedi di Kotagede Jogjakarta.


Legenda Nyai Loro Kidul (Jawa Tengah)

by Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Friday, October 29, 2010 at 12:43am
Tentunya anda pernah mendengar legenda sang penguasa lautan dari pantai selatan ‘Nyai Loro Kidul’, yang dipuja oleh seluruh masyarakat Pulau Jawa sebagai ratu cantik yang sakti mandraguna. Kecantikan dan kesaktiannya sangat menarik perhatian penguasa-penguasa tanah Jawa hingga tak heran banyak raja-raja yang memuja Nyai Loro sebagai junjungan mereka.

VERSI 1
Legenda Nyai Loro Kidul sebagai penguasa Ratu Pantai Selatan merupakan bagian sejarah Kerajaan Mataram Islam. Dalam sebuah karya sastra Jawa kuno yang dikenal dengan nama Babad Tanah Jawi menyebutkan asal usul Ratu yang menguasai seluruh pesisir pantai selatan Jawa.

Silsilah Nyai Loro Kidul konon menurut cerita adalah seorang putri Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri dari istana karena tidak menghendaki perjodohannya. Dari Pajajaran ia langsung menuju Gunung KombangHajar Cemara Tunggal. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pertapa yang yang sangat sakti dan berilmu tinggi. Ia dapat mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Bahkan berkat kesaktiannya tersebut, ia kemudian berkuasa memerintah segala makhluk halus di seluruh tanah Jawa. dan memutuskan untuk bertapa. Dalam pertapaannya, ia menyamar sebagai seorang pria dengan nama

Suatu ketika bertemulah Hajar Cemara Tunggal dengan Raden Sesuruh yang sedang dalam pelarian karena kalah perang dengan Ciung Wanara. Dengan kesaktiannya Hajar Cemara Tunggal dapat mengetahui bahwa kelak Raden Sesuruh akan berkuasa di tanah Jawa dan keturunannya menjadi raja-raja terkenal. Dalam pertemuan tersebut Raden Sesuruh akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Hajar Cemara Tunggal. Bahkan melihat kecantikannya, Raden Sesuruh langsung jatuh cinta. Nyai Loro Kidul kemudian memerintahkan Raden Sesuruh untuk segera membangun tanah Jawa menjadi sebuah kerajaan besar, sedangkan ia sendiri memindahkan istananya ke Samudera Pasir.

Berkat bantuan bala pasukan lelembut Nyai Loro Kidul, akhirnya Raden Sesuruh berhasil membangun Kerajaan Majapahit. Sejak saat itu keturunan Raden Sesuruh diketahui memiliki hubungan dekat dengan Nyai Loro Kidul. Namun dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa perkawinan Nyai Loro Kidul dengan raja tanah Jawa dimulai ketika masa pemerintahan raja Mataram Islam pertama yaitu Panembahan Senopati. Dan menurut legendanya semua raja-raja keturunan Panembahan Senopati kawin dengan Nyai Loro Kidul.

VERSI 2 

Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari   Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang   memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di  Jawa Timur.   Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang  cantik, Joko Suruh   pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang  ternyata merupakan   bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya.

Ketika    muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit.    Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual    di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi    penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan    menikahi seluruh penguasa secara bergantian.

Generasi  selanjutnya, Panembahan Senopati,  pendiri Kerajaan Mataram  Ke-2,  mengasingkan diri ke Pantai Selatan,  untuk mengumpulkan seluruh   energinya, dalam upaya mempersiapkan  kampanye militer melawan kerajaan   utara. Meditasinya menarik perhatian  Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji   untuk membantunya. Selama tiga  hari dan tiga malam dia mempelajari   rahasia perang dan pemerintahan,  dan intrik-intrik cinta di istana bawah   airnya, hingga akhirnya muncul  dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta   Selatan. Sejak saat itu, Ratu  Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan   keturunan Senopati yang  berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya   di tempat ini setiap  tahun melalui perwakilan istana Solo dan   Yogyakarta.

Konon, di salah satu sudut keraton Surakarta terdapat bangunan menara bertingkat yang diberi nama ‘Panggung Sangga Buwana’. Menara yang terletak di bagian timur keraton dipercaya sebagai tempat pertemuan antara Nyai Loro Kidul dan para raja-raja. Tak jarang para raja meminta pertolongan dan ajian sakti dari sang ratu untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi di wilayah kerajaan, mengingat pada jaman raja-raja, bangsa kita masih menganut faham aliran kepercayaan animisme dan dinamisme.

Waktu terus berlalu seiring perkembangan jaman, namun Keraton Surakarta masih berdiri megah dan tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat kota Solo  dan sekitarnya sebagai bentuk kerajaan kecil yang masih tersisa di tanah Jawa. Hingga kini pun Panggung Sangga Buwana masih diyakini oleh penduduk Surakarta sebagai balai pertemuan Raja Surakarta dengan Ratu Nyai Loro Kidul. Begitu pula sebagian masyarakat Jawa masih percaya bahwa Nyai Loro Kidul masih berkuasa di lautan selatan. Hal ini terbukti dengan adanya ritual sedekahan laut di pantai selatan setiap satu Muharam.

Apresiasi dan legenda terkait

Berbagai macam apresiasi dilakukan orang untuk menghormati tokoh legendaris ini.

Sedekah laut

Masyarakat nelayan pantai selatan Jawa setiap tahun melakukan sedekah  laut sebagai persembahan kepada sang ratu agar menjaga keselamatan para  nelayan dan membantu perbaikan penghasilan. Upacara ini dilakukan  nelayan di pantai Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, Pangandaran, Cilacap, Sakawayanadan sebagainya.

Tari Bedaya Ketawang

Naskah tertua yang menyebut-nyebut tentang tokoh mistik ini adalah Babad Tanah Jawi. Panembahan Senapati adalah orang pertama yang disebut sebagai raja yang menyunting Sang Ratu Kidul. Dari kepercayaan ini diciptakan Tari Bedaya Ketawang dari kraton Kasunanan Surakarta (pada masa Sunan Pakubuwana I), yang  digelar setiap tahun, yang dipercaya sebagai persembahan kepada Kanjeng  Ratu Kidul. Sunan duduk di samping kursi kosong yang disediakan bagi  Sang Ratu Kidul. Pengamat sejarah kebanyakan beranggapan, keyakinan akan  Kanjeng Ratu Kidul memang dibuat untuk melegitimasi kekuasaan dinasti  Mataram.

Larangan berpakaian hijau

Peringatan selalu diberikan kepada orang yang berkunjung ke pantai  selatan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau. Mereka dapat  menjadi sasaran Nyai Rara Kidul untuk dijadikan tentara atau pelayannya.

Ruang khusus di hotel

Pemilik hotel yang berada di pantai selatan Jawa dan Bali menyediakan  ruang khusus bagi Sang Ratu. Yang terkenal adalah Kamar 327 dan 2401 di  Hotel Grand Bali Beach. Kamar 327 adalah satu-satunya kamar yang tidak  terbakar pada peristiwa kebakaran besar Januari 1993. Setelah pemugaran,  Kamar 327 dan 2401 selalu dipelihara, diberi hiasan ruangan dengan  warna hijau, diberi suguhan setiap hari, namun tidak untuk dihuni dan  khusus dipersembahkan bagi Ratu Kidul.

Hal yang sama juga dilakukan di Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu.  Kamar 308 direservasi khusus bagi Ratu Kidul. Di dalam ruangan ini  terpajang beberapa lukisan Kanjeng Ratu Kidul karya pelukis Basoeki Abdullah.

Hotel Queen of The South di dekat Parangtritis mereservasi Kamar 33 bagi Sang Kanjeng Ratu.

Sumber:

Dewi Lanjar RATU PANTAI UTARA (PEKALONGAN)


by Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Saturday, October 30, 2010 at 3:27am
Objek wisata SLAMARAN INDAH merupakan Daerah pesisir yang boleh memberikan rasa sejuk dan nyaman. Dengan legenda DEWI LANJAR sebagai RATU PANTAI UTARA Pekalongan, konon mempunyai paras yang cantik jelita tiada bandingan.
Terletak disebelah timur Pantai Pasir Kencana dibatasi oleh muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan.

Dewi Lanjar sampai sekarang masih merupakan legenda yang hidup didalam masyarakat dan masih berpengaruh dalam jiwa masyarakat terutama di Pekalongan. Dalam segala peristiwa sering kali dihubungkan dengan Dewi Lanjar, apabila ada anak yang sedang bermain-main dipantai hilang tentu mereka berpendapat bahwa si anak itu dibawa Dewi Lanjar. Dan bilamana dapat diketemukan kembali tentulah si anak menyatakan dirinya tersesat disuatu daerah atau suatu kraton yang penghuni-penghuninya juga seperti kita-kita ini. Mereka mempunyai kegiatan membatik, berdagang, menukang, nelayan dan lain-lain yang tidak ubahnya seperti didalam kota saja. Daerah tersebut dikuasai oleh seorang Putri yang cantik ialah Dewi Lanjar.

Diceritakan pada jaman dahulu di suatu tempat Kota Pekalongan hiduplah seorang putri yang sangat cantik jelita, sampai sekarang masih menjadi pembicaraan penduduk, tempat yang terkenal dengan nama Dewi Rara Kuning. Adapun tempat tinggalnya tiada dapat diketahui secara pasti.

Dalam menempuh gelombang hidupnya Dewi Rara Kuning mengalami penderitaan yang sangat berat, sebab dalam usia yang sangat muda ia sudah menjadi janda. Suaminya meninggal dunia setelah beberapa waktu melangsungkan pernikahannya. Maka dari itulah Dewi Rara Kuning kemudian terkenal dengan sebutan Dewi Lanjar.

( Lanjar sebutan bagi seorang perempuan yang bercerai dari suaminya dalam usia yang masih muda dan belum mempunyai anak ).

Sejak ditinggal suaminya itu Dewi Lanjar hidupnya sangat merana dan selalu memikirkan suaminya saja. Hal yang demikian itu berjalan beberapa waktu lamanya, tetapi lama kelamaan Dewi Lanjar sempat berpikir kembali bahwa kalau dibiarkan demikian terus akan tidak baik akibatnya. Maka dari itulah ia kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, merantau sambil menangis hatinya yang sedang dirundung malang.


Tersebutlah, perjalanan Dewi Lanjar sampai disebuah sungai yaitu sungai Opak. Ditempat ini kemudian bertemu dengan Raja Mataram bersama Mahapatih Singaranu yang sedang bertapa ngapung diatas air di sungai itu. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar mengutarakan isi hatinya serta pula mengatakan tidak bersedia untuk menikah lagi.

Panembahan Senopati dan Mahapatih Singoranu demi mendengar tuturnya tergaru dan merasa kasihan. Oleh karena itu dinasehatinya agar bertapa di Pantai Selatan serta pula menghadap kepada Ratu Kidul. Setelah beberapa saat lamanya, mereka berpisahan serta melanjutkan perjalanan masing-masing, Panembahan dan Senopati beserta patihnya melanjutkan bertapa menyusuri sungai Opak sedangkan Dewi Lanjar pergi kearah Pantai Selatan untuk menghadap Ratu Kidul.

Dikisahkan bahwa Dewi Lanjar sesampainya di Pantai Selatan mencari tempat yang baik untuk bertapa. Karena ketekunan dan keyakinan akan nasehat dari Raja Mataram itu akhirnya Dewi Lanjar dapat moksa ( hilang ) dan dapat bertemu dengan Ratu Kidul.

Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar memohon untuk dapat menjadi anak buahnya, dan Ratu Kidul tiada keberatan. Pada suatu hari Dewi Lanjar bersama jin - jin diperintahkan untuk mengganggu dan mencegah Raden Bahu yang sedang membuka hutan Gambiran ( kini letaknya disekitar jembatan anim Pekalongan dan desa Sorogenen tempat Raden Bahu membuat api ) tetapi karena kesaktian Raden Bahu, yang diperoleh dari bertapa Ngalong ( seperti Kalong / Kelelawar ), semua godaan Dewi Lanjar dan jin - jin dapat dikalahkan bahkan tunduk kepada Raden Bahu.


Karena Dewi Lanjar tidak berhasil menunaikan tugas maka ia memutuskan tidak kembali ke Pantai Selatan, akan tetapi kemudian memohon ijin kepada Raden Bahu untuk dapat bertempat tinggal di Pekalongan. Oleh Raden Bahu disetujui, demikian pula oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperkenankan tinggal di pantai utara Jawa Tengah terutama di Pekalongan. Konon letak keraton Dewi Lanjar terletak dipantai Pekalongan di sebelah sungai Slamaran.

( Sumber Kantor Pariwisata & Kebudayaan 


Misteri Kanjeng Ratu Kidul, benarkah ada atau sekedar mitos semata?

by Kumpulan Dongeng & Cerita Rakyat on Friday, October 29, 2010 at 9:29pm
Mitos penguasa Laut Selatan ini sudah sedemikan kental dalam kultur Jawa. Antara dipercaya dan tidak dipercaya. Antara dihubungkan dengan dogma agama (dan jelas ditolak) dengan kepercayaan adat kejawen. Siapa yang tidak kenal nama Nyi Roro Kidul, sosok putri cantik mengenakan pakaian kebesaran adat Jawa (Jogja) berwarna dominan hijau gadung,  berkendaraan kereta kencana dengan ditarik kuda-kuda putih nan gagah,  melintasi gulungan ombak Laut Selatan,  menuju ke arah utara,  Gunung Merapi,  melewati Kraton,  istana Kasultanan Jogjakarta Hadiningrat,  kadang-kadang mampir ke sana-kemari,  menambah pengikut.

Nyi Roro Kidul mengendarai kereta kudanya

Saat itulah muncul banyak penyakit yang membawa kematian. Masa-masa seperti itu lazim di sebut dengan istilah”Pageblug”. Dan kejadian ketika kereta kuda tersebut lewat (jaman dulu dipercaya bahwa saat kereta berkuda itu lewat,  terdengar bunyi kerincingan kuda di udara) disebut dengan nama”Lampor”. Orang-orang harus bergegas masuk ke dalam rumah dan memadamkan lampu (jaman sekarang ada PLN = Perusahaan Lampor Negara ??) yang memadamkan lampu),  sehingga sang Nyai tidak melihat ada orang di dalam rumah (terutama para pemuda). Hal ini sering juga dipakai sebagai alat untuk menakut-nakuti anak-anak yang nakal dan bandel tidak mau pulang dari bermain, meskipun hari telah gelap.

Para wisatawan yang berkunjung ke pantai-pantai selatan di beri peringatan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau,  baik hijau daun maupun hijau lumut,  karena akan dianggap menyamai pakaian Sang Ratu,  dan itu jelas tidak sopan,  menyalahi tata krama,  dan sebagai akibatnya,  si pemakai harus menanggung derita menjadi pelayan atau tawanan di kerajaan Laut Selatan. Arti secara kasat mata ya si pemakai baju hijau akan hilang diseret ombak Laut Selatan. Kadang jasadnya ditemukan dalam kondisi meninggal,  kadangkala hilang lenyap tak berbekas.

Ada keterangan ilmiah mengenai hal ini. Warna laut di wilayah Laut Selatan adalah kehijau-hijauan,  sehingga orang yang terseret ombak akan sangat sulit ditemukan,  karena terkamuflase dengan warna air laut. Sementara itu di bawah gelombang air laut pantai selatan,  banyak terdapat pusaran-pusaran air yang tidak terlihat dari permukaan laut. Pusaran-pusaran tersebut dapat menyedot seseorang yang terlanjur terseret ombak,  sehingga kemungkinan untuk di temukan akan sulit. Oleh karena itu,  selalu ada larangan untuk berenang di Laut Selatan,  dan hampir tidak ada nelayan yang melaut di sekitar Laut Selatan,  karena ombaknuya cukup ganas dan pusaran airnya kadang tidak dapat diduga keberadaannya (berpindah-pindah tempat).

Menurut Ki Sidikpermana, bila akan menemui tamu berbusana peranakan, Kanjeg Ratu Kidul muncul dengan mengenakan busana lengkap sebagai seorang Ratu. Dikawal abdidalem Palawija. Tapi bila menemui tamu berpakaian biasa, Kanjeng Ratu Kidul mengenakan busana serba putih seperti rukuh dan tak dikawal.

KEPERCAYAAN masyarakat terhadap Penguasa Laut Selatan sampai sekarang masih ada. Tapi ada beberapa versi menyangkut legenda itu.

Di Jawa Barat, Penguasa Laut Selatan adalah seorang puteri dari Kerajaan Pajajaran bernama Dewi Kandita. Karena sesuatu hal, putri cantik ini meninggalkan keraton kemudian bertapa di Laut Selatan.

Cerita versi Jogyakarta lain lagi. Penguasa Laut Selatan, yang dikenal sebagai Ratu Kidul adalah Dewi Retno Dumilah, seorang puteri Adipati Madiun yang kemudian diperisteri Panembahan Senopati, penguasa Kerajaan Mataram pertama. Dari hasil perkawinannya melahirkan dua orang putera yakni Raden Rangga dan Puteri Pembayun. Raden Rangga dikenal sakti mandraguna, tapi memiliki watak ugal-ugalan. Sementara Puteri Pembayun dijodohkan dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya. Namun, perkawinan itu hanya sebagai rekayasa untuk menundukkan Ki Ageng Mangir yang mbalela (membangkang) terhadap Mataram. Malah dituduh akan melakukan agresi segala.

Laut Selatan yang berada di wilayah Jogjakarta meliputi Parangtritis dan Parangkusumo. Hingga sekarang masih dipercaya sebagai sebuah keraton kajiman. Sebagai penguasa keraton tersebut adalah Kanjeng Ratu Kidul, yang tidak lain Dewi Retno Dumilah.Dalam kehidupan sehari-hari di keraton, Kanjeng Ratu Kidul memiliki seorang abdidalem keparak puteri yaitu Nyi Loro Kidul. Dikenal sebagai salah seorang abdidalem yang sangat disayangi. Bila seseorang ingin ber makrifat tentang keberadaan Kanjeng Ratu Kidul, dapat dilakukan dengan cara laku spiritual.

KESIMPULAN

1. Kanjeng Ratu Kidul 
adalah tokoh legenda yang sangat populer di kalangan masyarakat penghuni Pulau Jawa dan Bali. Kepercayaan akan adanya penguasai lautan di selatan Jawa (Samudera Hindia) dikenal terutama oleh suku Sunda dan suku Jawa. Orang Bali juga meyakini adanya kekuatan yang menguasai pantai selatan ini. Konon, Sang Ratu tampil sebagai perempuan muda dan cantik pada saat bulan muda hingga purnama, namun berangsur-angsur menua dan buruk pada saat bulan menuju bulan mati.

2. Nyi Roro Kidul
Dalam keyakinan orang Jawa, Kanjeng Ratu Kidul memiliki pembantu setia bernama Nyai/Nyi Rara Kidul (kadang-kadang ada yang menyebut Nyi Lara Kidul). Nyi Rara Kidul menyukai warna hijau dan dipercaya suka mengambil orang-orang yang mengenakan pakaian hijau yang berada di pantai wilayahnya untuk dijadikan pelayan atau pasukannya. Karena itu pengunjung pantai wisata di selatan Pulau Jawa, baik di Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Cilacap, pantai-pantai di selatan Yogyakarta, hingga Semenanjung Purwa di ujung timur, selalu diingatkan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau.

3. Nyi Blorong
Biasanya melayani manusia-manusia sesat yang ingin Pesugihan(bahasa jawa= kekayaan) seperti misalnya menumbalkan (mengorbankan, sacrifice) anggota keluarga mereka untuk menjadi budak Nyi Blorong dan pada akhirnya mereka sendiri pun akhirnya menjadi budak dari Nyi Blorong. (source: mendengar dari cerita orang-orang tua)

Sumber dirangkum dari:


Nenden Salwa

Berbahagialah orang-orang yang suka membaca... merupakan ibadah dhohir dari mata turun ke hati... menjadi bahan perenungan...



Ilmu ibarat kitab menuturkan segala perjalanan mengenai langkah kita selama menjalani kehidupan dan ilmu juga merupakan bayi yang terlahir yang harus dididik dalam jiwa  dan dibesarkan dalam pemikiran...




Nilai luhur cerita-cerita rakyat semoga tidak hilang ditelan waktu dimakan jaman yang tidak bisa mengindahkan kebudayaan adiluhung... 

Untuk wawasan, sekali-sekali perlu mengunjungi tempat2 pariwisata yang ada sangkutannya dengan nilai sejarah pun juga kisah legenda atau cerita rakyat...

Bagi yang belum siap menyatu dengan alam, jangan sekali-kali bertapa di tempat-tempat  seperti itu  takutnya tiba2 berubah jadi ratu ular kobra atau babi ngepet atau jadi buta hijau...  jika mati bisa menjadi penjaga hutan mending jadi rajanya gimana kalau jadi santapan dedemit...


Ilmu yang bermanfaat adalah banyak membaca untuk merangsang daya pikir ditambah bekal pengalaman... 

Jadikan ilmu (kepintaran) sebagai sahabat/langkah kita .Karena dengan kemampuan ilmu kita akan didekati  orang2 yang haus ilmu sekaligus bisa mewujudkan impian...




Ucapan trerimakasih dari lubuk hati yang paling dalam pada 'Radityo full' yang telah membagi kumpulan cerita rakyat di wallnya.. dan ini akan bermanfaat bagi siapa saja yang berkunjung kemudian membaca kumpulan cerita  dari seluruh pelosok nusantara ini....
 
 
 
 




Tidak ada komentar: